MCTC, siapa induk semangmu?

 

eeeehh langkah panjang… langkah panjang..

suara kami terdengar di udara…

lima-lima.. hai semua..

inilah bea dan cukai…

langkahnya panjang-panjang..

eaeo….eeaaeeoo…

 

Suara hentakan kaki yang dibalut sepatu lars , berirama , dari barisan lari dua banjar itu dibarengi dengan nyanyian lantang bait lagu di atas. Lagu template yang dimodifikasi yang biasanya juga dikumandangkan oleh barisan pasukan TNI atau siswa pusat pendidikan latihan yang sedang menjalani pembinaan fisik. Bedanya tentu saja pergantian kata di nama kesatuan, Bea dan Cukai. Barisan itu mengular di sepanjang jalur pendek kurang lebih tiga kilometer menyusur pemukiman penduduk di depan Kantor Wilayah Bea dan Cukai Kepri, terus mengambil tepi jalan raya Meral, dan kembali ke lapangan rumput halaman kantor.

Hari itu Selasa pagi, tepat jam tujuh, diawali dengan senam ringan pemanasan dan peregangan, lari pagi dalam rangka pembinaan jasmani ini sudah berlangsung sejak seorang kepala kantor wilayahnya terobsesi membangun pride kepada kesatuan tercintanya, korps Bea dan Cukai. Ya, kegiatan pembinaan jasmani yang rutin dilakukan di Selasa pagi dan Jumat pagi, adalah dalam rangka membangun rasa bangga kepada kesatuan dan menunjukkan eksistensi serta kekompakan Bea dan Cukai yang ada di Tanjung Balai Karimun, dengan bonus badan sehat, segar bugar.

Seorang Hari Budi “Rajawali” Wicaksono, bertekad bahwa di Tanjung Balai Karimun, tanah dimana cikal bakal lahirnya patroli laut di Bea dan Cukai, harus menjadi tanah tempat penggemblengan pasukan patroli laut kebanggaan Bea dan Cukai. Sejajar dengan adanya Karang Pilang sebagai kawah candradimukanya Marinir, Watukosek sebagai tempat lahirnya pejuang Brimob, Gunung Tidar sebagai pusat penggemblengan Taruna Angkatan Darat, dan Batujajar sebagai basis pembentukan pasukan Kopassus.Nama yang dipilih kemudian adalah Marine Customs Training Center ( MCTC ), nama yang sengaja dibesarkan dengan bahasa internasional, sebagai spesifikasi dari lembaga diklat khas kepabeanan dan cukai, Pusdiklat Bea dan Cukai.

Tekad itu seperti merepetisi sejarah. Dulu kalanya, keberadaan Bea dan Cukai di Tanjung Balai Karimun adalah sebagai basis pemeriksaan kapal-kapal niaga yang akan memasuki wilayah pabean Indonesia. Kewenangan kepabeanan saat itu dengan nama Douane, memungkinkan menarik kapal untuk dilakukan pemeriksaan ke Tanjung Balai Karimun, untuk kemudian diambil tindakan sesuai kewenangan yang melekatnya sesuai ordonansi yang berlaku di jamannya.

Pemilihan lokasi Tanjung Balai Karimun sebagai basis Douane, mempertimbangkan posisinya yang strategis mengawasi alur laut internasional yang melewati selat malaka , jalur tersibuk lalu lintas lautnya. Membangun basis armada patroli pertama, tower komunikasi dan radar pantai sebagai pendukungnya, mejadikan keberadaan Bea dan Cukai di Tanjung Balai Karimun mumpuni mengemban tugas pengawasan patroli laut di sepanjang bentangan pesisir pantai Sumatra hingga ke Natuna.

Saat ini, obsesi itu sudah mulai terwujud dengan dukungan semua pihak, dan semangat itu tetap dinyalakan oleh penggantinya,”Elang” Parjiya.

Keberadaan segenap fasilitas yang telah direalisasikan pembangunannya tahun 2014 dan 2015 lalu, berupa asrama dan ruang kelas, pencetakan pasukan-pasukan patroli laut dari seluruh Indonesia telah dimulai. Workshop Marine Customs Tactical Unit, DTSS Surat Kecakapan Kelautan ( SKK ) 60 mil bagi Pengawak Speedboat ,DTSS Patroli dan Pemeriksaan Sarana Pengangkut Laut, dan Workshop Basic English for Marine Customs Officer telah terselenggara di tahun 2016 ini.

Dibalik cerita sukses terselenggaranya diklat-diklat itu, tersisa beberapa hal yang mesti dibereskan demi keberlangsungan mimpi basis pembentukan tenaga patroli laut di Tanjung Balai Karimun, diantaranya optimalisasi pemberdayaan dan pengelolaan asrama dan ketersediaan personil penanggungjawab keseluruhan penyelenggaraan diklat.

Belajar dari metode pengkhususan yang dilakukan oleh AKMAL ( Akademi Kastam Malaysia ) di beberapa cabang lembaga pendidikannya, ada baiknya Pusdiklat  Bea dan Cukai yang menaungi diklat khas kepabeanan dan cukai, berani memutuskan dibukanya cabang lembaga pelatihan di Tanjung Balai Karimun, khusus di bidang pembentukan tenaga Patroli Laut. Keberanian yang diikuti dengan pengalokasian dana untuk dititipkan kepada Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepri dalam rangka pembelian peralatan diklat yang bisa dipakai berulang-ulang maupun untuk dibagikan, pengalokasian dana untuk mengelola asrama diklat hingga layak huni bagi peserta diklat, dan mengalokasikan dana yang cukup dalam rangka pelaksanaan simulasi /praktek olah gerak dan penggunaan sarana patroli berupa pembelian Bahan Bakar Minyak. Hal ini sebagai review atas diklat yang sudah selesai diselenggarakan, dimana pusdiklat maupun Balai Diklat Pekanbaru tidak mengalokasikan ketersediaan dana yang cukup untuk hal-hal tersebut diatas.

Beruntunglah bahwa semangat pembentukan kader-kader patroli laut itu masih menyala dibarengi dengan rantai komando yang tegas, kendala-kendala yang dihadapi bisa teratasi. Semangat itu membuat segenap pegawai yang terlibat didalam kegiatan ini meskipun bukan tusi pokoknya, bersedia mengerahkan segenap tenaga, waktu dan pikirannya untuk kesuksesan penyelenggaran diklat.Hingga dengan semangat itu tidak sempat mereka bertanya, MCTC, siapa induk semangmu?

Sesungguhnya juga segenap pegawai merasakan bahwa memang sudah seharusnya pendidikan dalam rangka pembentukan tenaga handal patroli laut milik Bea dan Cukai lahir dan besar di bumi berazam, Tanjung Balai Karimun.

ditulis oleh Slamet Sukanto

Instagram URL Facebook URL Twitter URL Youtube URL